Presiden AFC, Salman bin Ebrahim Al Khalifa kini tengah menjadi sorotan setelah laga Timnas Indonesia vs Bahrain, pada Kamis (10/10/2024). Sebab, pria 59 tahun ini merupakan warga negara Bahrain.
Dalam pertandingan tersebut, wasit Ahmed Abu Bakar Al Kaf dianggap terlalu berpihak kepada Bahrain, sang tuan rumah. Wasit asal Oman tersebut dinilai terlalu lama meniup peluit tanda laga berakhir, walaupun telah melewati 6 menit perpanjangan waktu.
Alhasil, Bahrain mampu menyamakan kedudukan menjadi 2-2 pada menit 90+9 dan membuyarkan kemenangan Timnas Indonesia yang sudah di depan mata. Karena kecewa dengan keputusan Ahmed Al Kaf, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) pun berencana mengajukan protes kepada AFC.
Akan tetapi, sejumlah warganet di media sosial justru khawatir protes tersebut kemungkinan sulit untuk ditandaklanjuti lantaran Presiden AFC merupakan warga negara Bahrain. Lalu, siapa Salman bin Ebrahim Al Khalifa? Berikut ini akan dibahas profil tentang Shaikh Salman bin Ebrahim Al Khalifa yang menarik untuk diketahui.
- Profil Presiden AFC, Salman bin Ebrahim Al Khalifa
Salman bin Ebrahim Al Khalifa lahir pada 2 November 1965 di Riffa, Bahrain. Ia merupakan anggota House of Khalifa, yaitu keluarga kerajaan Bahrain. Salman adalah putra kedua dari pasangan Ibrahim bin Hamad Al Khalifa dan Aisha binti Salman Al Khalifa. Ibunya merupakan putri dari Raja Bahrain, yakni Salman bin Hamad Al Khalifa yang berkuasa sejak 1942 hingga 1961.
Ia adalah lulusan dari Universitas Bahrain pada tahun 1992 dengan gelar sarjana sastra dan sejarah Inggris. Meskipun tidak pernah bermain sepak bola pada level profesional, namun Salman terkenal sebagai Wakil Presiden Asosiasi Sepak Bola Bahrain pada tahun 1998 hingga 2002.
Kemudian, ia naik jabatan sebagai Presiden Asosiasi Sepak Bola Bahrain mulai tahun 2002 hingga 2013. Setelah masa tugasnya selesai, Ia dinobatkan sebagai presiden baru Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) sejak 2013, menggantikan posisi Mohammed Bin Hammam yang tersandung kasus korupsi.
Kursi Presiden AFC itu diperoleh Salman usai memenangkan 33 dari 46 suara, yang mengalahkan saingannya Yousuf AI Serkal dari Uni Emirat Arab dan Worawi Makudi asal Thailand. Pada kongres tersebut, ia pun diangkat sebagai anggota Komite Eksekutif FIFA atau yang sekarang telah berganti nama menjadii Dewan FIFA.
Dalam kongres AFC tahun 2019, ia berhasil mempertahankan posisinya sebagai Presiden AFC untuk periode 2019-2023. Salman memegang jabatan presiden AFC hingga tahun 2027 mendatang setelah kembali memenangkan suara pada Kongres AFC yang digelar pada 1 Februari 2023.
- Kontroversi Salman bin Ebrahim Al Khalifa
Meskipun Salman berulang kali terpilih sebagai pemimpin AFC, namun tidak membuatnya luput dari kontroversi. Ia pernah mengubah konstitusi konfederasi AFC yang membuat Pangeran Ali bin Hussein asal Yordania kehilangan kursinya sebagai salah satu perwakilan Asia di Dewan FIFA. Manuver politik itu juga membuat hubungan Salman dengan Pangeran Ali retak. Bahkan ia pun sempat dituding berperan dalam peristiwa pemberontakan “Musim Semi Arab” pada tahun 2011.
Sejumlah kelompok aktivis seperti Human Rights Watch dan Bahrain Insitute for Rights and Democray menyebutkan bahwa Salman bin Ebrahim Al Khalifa menjadi kepala komite pemerintahan yang dibentuk untuk mengidentifikasi para eksekutif olahraga dan atlet yang turut terlibat dalam aksi tersebut. Para atlet ditangkap termasuk tiga pemain utama dari Bahrain, dan beberapa orang lainnya mengaku mengalami penyiksaan. Namun, tuduhan itu dibantah Salman dan mengklaimnya sebagai kebohongan keji.
Kemudian, ia kembali disebut – sebut terlibat dalam keputusan kontroversial mengenai final Piala Dunia 2022. Salman dituding sebagai tokoh utama dalam Dewan FIFA yang mengubah waktu pertandingan final Piala Dunia 2022 dari yang biasanya digelar saat musim panas menjadi musim dingin.